Langsung ke konten utama

REVITALISASI PENDIDIKAN VOKASI MELALUI INOVASI SISTEM PENILAIAN KECAKAPAN

 

Pendahuluan

   Pada saat ini dengan berkembangnya informasi, komputasi, otomasi, dan komunikasi yang merambah dalam segala aspek kehidupan manusia di semua belahan dunia. Hal ini tentunya berdampak pada pendidikan, dimana dalam proses pembelajarannya hendaknya disesuaikan dengan kemajuan dan tuntutan zaman. Dunia kerja menuntut perubahan kompetensi yang harus dimiliki peserta didik. Kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi dan berkolaborasi menjadi kompetensi penting dalam memasuki kehidupan abad 21.
     Pembentukan kompetensi di sekolah mengandalkan kurikulum yang diselaraskan dengan tuntutan dunia masa depan anak yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri, agar dapat terserap di dunia kerja. Kurikulum yang dikembangkan oleh sekolah dituntut untuk merubah pendekatan pembelajaran dan sistem penilaiannya yang berpusat pada guru/pendidik (teacher centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan anak yang harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar (thinking and learning skills). Oleh karena itu, model pembelajaran dan sistem penilaiannya di abad 21 hendaknya diarahkan untuk mendorong peserta didik agar mampu: (1) mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu, (2) merumuskan masalah (menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab), (3) berpikir analitis (mengambil keputusan) bukan berpikir mekanistis (rutin), dan (4) menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah (Kemdikbud, 2013).
     Terkait hal di atas, maka proses pembentukan kompetensi hendaknya berorientasi pada kecakapan pembelajaran abad ke 21 dengan mengembangkan proses pembelajaran dan sistem penilaiannya yang menekankan kepada higher order thinking skills (HOTS) dan penerapan pengembangan kemampuan literasi serta penguatan pendidikan karakter. Mengacu hal ini, maka selanjutnya akan dibahas tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan sistem penilaian berbasis kecakapan abad 21 dan bagaimana cara mengembangkan dan menerapkannya dalam pembelajaran.

Revitalisasi Pendidikan Vokasi

     Dalam rangka untuk peningkatan kualitas dan sumber daya manusia, Presiden mengeluarkan instruksi yaitu Inpres Nomor 9 Tahun 2016 yang berisi tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau Pendidikan vokasi. Adapun tujuan dari program revitalisasi SMK ini dilakukan adalah untuk meningkatkan kualitas dan daya saing Sumber Daya Manusia Indonesia. Diharapkan melalui pendidikan vokasi/kejuruan di SMK mampu menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing unggul dalam persaingan kebekerjaan secara nasional maupun global. Prioritas yang diutamakan pada program ini adalah agar sekolah memiliki keunggulan berbasis potensi wilayah dan sumber daya yang dimiliki untuk menghasilkan lulusan sesuai dengan kebutuhan riil tenaga kerja di industri untuk mendukung perkembangan ekonomi dan pengembangan wilayah. Revitalisasi Pendidikan vokasi yaitu SMK diharapkan memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu SMK sekaligus memberikan pengaruh terhadap kualitas lulusan SMK yang akan menjadi sumber daya pembangunan di Indonesia.
     Implementasi revitalisasi pendidikan vokasi dilaksanakan mengacu kepada peta jalan revitalisasi SMK yang telah ditetapkan dengan beberapa aspek program yang akan dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas SMK, sehingga mempunyai peran dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang kompeten dan produktif. Fokus revitalisasi ditujukan pada isu strategis yang meliputi aspek program penyelarasan kurikulum (termasuk inovasi pembelajaran), penyediaan dan peningkatan kualitas guru produktif dan tenaga kependidikan, standarisasi sarana dan prasarana, penguatan dan perluasan kerja sama dengan dunia usaha/dunia industri (DU/DI), dan pengelolaan dan penataan kelembagaan (Dir. PSMK,2017).
     Kurikulum dalam penyelanggaraan pendidikan di SMK menjadi hal yang sangat penting sehingga kurikulum harus ditangani dan diselaraskan dengan kebutuhan kompetensi dunia usaha/dunia industri (DUDI). Kurikulum sebagai roh dalam pendidikan di SMK secara berkala harus diselaraskan dengan dinamika kebutuhan kompetensi DU/DI yang terkait. Pembentukan kompetensi di sekolah mengandalkan kurikulum yang telah diselaraskan dengan kebutuhan kompetensi DU/DI sehingga lulusannya dapat terserap di dunia kerja. Relevansi kurikulum dan link and match antara kompetensi bentukan SMK dengan kompetensi kebutuhan DU/DI menjadi ukuran keberhasilan penyelarasan kurikulum. Pembelajaran di era digital sekarang ini, menuntut pendidik untuk berinovasi memanfaatkan teknologi inormasi sebagai bagian dari tugas pendidik untuk membuat suasana belajar menyenangkan dan menjadikan peserta didik senang belajar. Karakteristik pembelajaran tidak hanya disekolah saja, tetapi juga di industri atau dunia usaha untuk melakukan prakerin, maka inovasi pembelajaran juga dilakukan di kedua tempat tersebut. Beberapa permasalahan inovasi pembelajaran di sekolah kejuruan antara lain pengembangan project based learning sebagai mainstream model pembelajaran kecakapan abad ke-21, pengembangan model dan metode pembelajaran student center, penguatan tatakelola praktik kerja industi, pengembangan teaching factory sebagai pusat kreatif dan inovasi, dan pengembangan sistem evaluasi dan uji kompetensi.
     Pembentukan kompetensi di SMK berorientasi pada kecakapan pembelajaran abad-21 dengan mengembangkan proses pembelajaran yang menekankan kepada higher order thinking skills (HOTS) dan penerapan pengembangan kemampuan literasi serta penguatan pendidikan karakter. Melalui proses tersebut diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang mempunyai daya saing kebekerjaan yang tinggi. Untuk mendapatkan proses pembentukan kompetensi yang ideal dan mampu menghasilkan lulusan sebagaimana yang diharapkan, maka pemenuhan dan pemerataan prasarana-sarana SMK, guru produktif, tenaga kependidikan, manajemen sekolah, dan hubungan kerja sama industri sebagai komponen proses penting yang harus diperhatikan.

Inovasi Sistem Penilaian dalam Revitalisasi Pendidikan Vokasi

     Inovasi sistem penilaian dalam program revitalisasi termasuk pada permasalahan pada aspek program revitalisasi inovasi pembelajaran. Aspek inovasi ini lebih diarahkan untuk mendorong pendidikan vokasi mengimplementasikan proses pembelajaran yang dapat secara riil menghasilkan kompetensi produktif, antara lain dengan menerapkan model pembelajaran project based learning dan problem based learning. Pembelajaran mengharapkan pendidik untuk menggunakan strategi literasi dengan memanfaatkan referensi baik library based maupun online disertai dengan pengembangan sistem evaluasi dan uji kompetensi yang handal.
    Pengembangan sistem evaluasi dan uji kompetensi, menghendaki sekolah untuk: a) menggunakan acuan patokan (kompeten-belum kompeten) dalam sistem evaluasi, b) menggunakan penilaian otentik-performance base, c) melakukan uji kompetensi dan sertifikasi per kompetensi keahlian, d) menyusun soal-soal dan latihan disusun berbasis HOTS dan literasi untuk pencapaian Kecakapan Abad 21, e) menyesuaikan materi uji kompetensi dengan standar dari BNSP, f) menyusun instrumen penilaian dengan memperhatikan kemampuan/keterampilan abad ke 21 (4Cs), dan g) menyediakan bank soal untuk evaluasi yang memenuhi standar.

Inovasi Sistem Penilaian Berbasis Kecakapan Abad-21

     Pembelajaran abad 21 di sekolah vokasi diharapkan para lulusannya harus dapat mengisi formasi kerja yang sesuai dengan tuntutan perubahan kompetensi dari dunia usaha/industri. Untuk itu dilakukannya inovasi pembelajaran berbasis pada teknologi digital, teknologi informasi dan komunikasi. Karakteristik pembelajaran di sekolah vokasi tidak hanya di sekolah saja, tetapi juga di dunia usaha maupun di dunia industri. Kegiatan pembelajaran di era digital sekarang ini, menuntut pendidik untuk berinovasi memanfaatkan teknologi informasi dan menerapkan sistem penilaian sebagai bagian dari tugas pendidik, dan lebih diarahkan untuk mendorong peserta didik vokasi mengimplementasikan proses pembelajaran yang dapat secara riil menghasilkan kompetensi produktif dan mempunyai daya saing kebekerjaan yang tinggi. Untuk mendapatkan proses pembentukan kompetensi yang ideal hendaknya berorientasi pada kecakapan pembelajaran abad ke-21 dengan mengembangkan proses pembelajaran yang menerapkan kepada higher order thinking skills.
    Dalam kegiatan belajar mengajar, penilaian atau asesmen memegang peranan penting dalam mewujudkan penguasaan kompetensi peserta didik. Penilaian atau asesmen adalah merupakan proses pengumpulan informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan-keputusan tentang kebijakan pendidikan, mutu program pendidikan, mutu kurikulum, mutu pengajaran atau sejauh mana pengetahuan yang telah diperoleh seorang peserta didik tentang semua hal yang telah diajarkan kepadanya. Melalui asesmen akan diperoleh informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan-keputusan tentang peserta didik, kurikulum, program, sekolah, dan kebijakan-kebijakan pendidikan (Nitko, 2007:4).
     Melaksanakan asesmen bisa mempunyai tujuan yang beragam, dan pemilihannya tergantung pada bagaimana informasi hasil penilaian akan digunakan. Tujuan yang paling dasar dari penggunaan asesmen menurut Hermanussen, Aschbacher, dan Winters (1992) menjadi 2 (dua), yaitu untuk (1) menentukan sejauh mana pebelajar telah menguasai pengetahuan khusus atau keterampilan-keterampilan (content goal), (2) mendiagnosa kelemahan dan kelebihan pebelajar dan merancang pengajaran yang sesuai (process goals). Menurut Djemari Mardapi (2004:7) prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam asesmen atau penilaian, yakni harus mampu: (1) memberi informasi yang akurat, (2) mendorong siswa belajar, (3) memotivasi tenaga pendidik mengajar, (4) meningkatkan kinerja lembaga, serta (5) meningkatkan kualitas pendidikan.
     Mengacu pada karakteristik pembelajaran di sekolah vokasi, yang pelaksanaannya tidak hanya di sekolah saja, tetapi juga dilakukan di dunia usaha maupun di dunia industri. Oleh sebab itu, untuk menghasilkan peserta didik yang kompeten dan produktif optimalisasi inovasi pembelajaran diutamakan pada pembelajaran produktif. Pembelajaran program produktif di sekolah vokasi pada dasarnya dilaksanakan berbasis kompetensi (competency-based training) dan berbasis produktif (production-based training) yang bercirikan mastery learning (belajar tuntas). Ukuran ketuntasan penguasaan kompetensi disebut dengan kriteria ketuntasan minimal. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan untuk menilai penguasaan kompetensi disebut criterion referenced score interpretation.
     Pembelajaran produktif berlangsung di laboratorium, dimana peserta didik langsung berhadapan dengan benda kerja, belajar dalam pola kerja sama untuk menyelesaikan permasalahan kerja yang dihadapi, serta belajar dari pengalaman kerja yang dialami. Selama proses pembelajaran berlangsung maupun pada akhir pembelajaran yang secara keseluruhannya perlu dirancang dengan baik untuk mengantarkan peserta didik sukses dalam mengikuti uji kompetensi. Jenis penilaian yang tepat dikembangkan untuk menilai suatu kompetensi yang mencakup kecakapan kognitif, kecakapan teknikal/keterampilan dan sikap adalah penilaian otentik (authentic assessment). Jenis penilaian ini digunakan untuk menilai pengetahuan dan keterampilan peserta didik secara multi-dimensional pada situasi nyata, di mana penilaiannya tidak hanya menggunakan paper-and-pencil items atau tes tertulis saja tetapi juga menggunakan berbagai metode/bentuk, misalnya tes (tulis, lisan), penilaian perbuatan/kinerja, penilaian proyek, pemberian tugas problem solving kelompok, observasi sistemik oleh instruktur atau peserta didik (peer and self assessment), respon tertulis secara luas, portofolio, jurnal, dan penilaian berbasis kriteria, (Corebima, 2008). Metode non tes digunakan untuk mengukur sikap menggunakan cara observasi, wawancara, inventori, self report, dan jurnal.

     Penilaian otentik memberikan berbagai manfaat kepada para peserta didik, yaitu (a) menunjukkan secara lengkap seberapa baik pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran; (b) menunjukkan dan memperkuat kompetensi-kompetensi seperti pengumpulan informasi, pemanfaatan sumber penanganan teknologi, dan pemikiran sistematik; (c) menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka, dunia mereka maupun dengan masyarakat yang lebih luas; (d) meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, sintesis, identifikasi permasalahan, menemukan solusi, serta mengikuti hubungan sebab-akibat; (e) menerima tanggungjawab dan membuat pilihan-pilihan; (f) menghubungkan mereka dengan orang lain, termasuk berkolaborasi dalam tugas; dan (g) belajar mengevaluasi tingkat kinerja (performance) mereka sendiri (Jonhson, 2002). Dengan demikian penggunaan jenis penilaian otentik bukan saja mampu mengukur kompetensi yang tergolong hard skills, tetapi juga mampu mengukur kompetensi yang bersifat soft skills.
     Melalui penerapan penilaian otentik, pencapaian kemampuan berpikir kritis peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antara sistem. Peserta didik juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya secara mandiri, peserta didik juga memiliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, memiliki kemampuan menganalisa berbagai informasi, dan mengintegrasikan berbagai sumber pengetahuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Penerapan penilaian yang terintegrasi pada proses pembelajaran mampu melatihkan, mengembangkan dan membiasakan pola pikir kreatif melalui butir tes HOTS, maka peserta didik akan memiliki kemampuan pola pikir kreatif untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada teman yang lain, bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda. Kemampuan berpikir pikir kritis dan kreatif ini akan dapat dicapai bila peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills = HOTS). Terkait hal ini, maka peserta didik di pendidikan vokasi perlu dibekali dengan HOTS agar mampu mempersiapkan diri menghadapi segala tantangan di abad 21. Sebab dengan memiliki HOTS, maka peserta didik akan mampu berpikir kritis, kreatif, meneliti, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan memiliki karakter yang baik.
     Kompetensi tersebut di atas dapat dicapai manakala peserta didik diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan berpikir tingkat tinggi, melalui pendidik dengan menggunakan penilaian otentik bentuk tes untuk mengembangkan kompetensi kognitif/pengetahuan dalam proses pembelajarannya. Keterampilan berpikir pada tingkat yang lebih tinggi memerlukan proses pemikiran yang lebih kompleks mencakup mampu menerapkan, mampu menganalisis, mampu mengevaluasi, dan tahap mampu mencipta yang berdasarkan taksonomi Bloom. Didalam taksonomi Bloom, berpikir tingkat tinggi membutuhkan berbagai langkah-langkah pembelajaran dan pengajaran yang berbeda daripada hanya sekedar mempelajari fakta dan konsep semata namun mengharuskan ketika melakukan sesuatu atas fakta-fakta. Peserta didik harus memahaminya, menggabungkan satu sama lainnya, mengkategorikan, memanipulasi, menempatkannya bersama-sama dengan cara-cara baru, dan menerapkannya dalam mencari solusi baru terhadap persoalan-persoalan baru. Oleh karena itu, penilaian berbasis keterampilan kritis dan kreatif hendaknya berfokus pada kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah secara kritis, logis, sistematis, analitis, sintesis, kreatif dan evaluatif.
     Menurut Wirabuana (2011: 1) langkahlangkah melakukan penilaian pemecahan masalah dalam pembelajaran untuk melatihkan dan mengembangkan kemampuan keterampilan berpikir tinggi yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, (2) mengumpulkan data, (3) menganalisis data, (4) memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya, (5) memilih cara untuk memecahkan masalah, (6) merencanakan penerapan pemecahan masalah, (7) melakukan uji coba terhadap rencana yang ditetapkan, dan (8) melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah. Empat tahapan yang pertama mutlak diperlukan untuk berbagai kategori tingkat berpikir, sedangkan empat tahapan berikutnya harus dicapai bila pembelajaran dimaksudkan untuk mencapai keterampilan berpikir tingkat tinggi atau berpikir kritis dan kreatif.
     Agar supaya penilaian berbasis keterampilan berpikir kritis dan kreatif dapat tercapai dengan baik, maka hendaknya 1) proses penilaian menitikberatkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, logis, aplikatif, analisis, sintesis, evaluasi dan pemecahan masalah, bukan sekedar menghafal atau mengingat, 2) pendidik dapat memberikan permasalahan kepada peserta didik sebagai bahan diskusi dan pemecahan masalah sehingga dapat merangsang aktivitas berpikir, 3) kegiatan penilaian dilakukan melalui kegiatan diskusi, kegiatan lapangan, praktikum, menyusun laporan praktikum, dan peserta didik diminta engevaluasi sendiri keterampilan itu, 4) penilaian dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik, dan 5) dapat memberikan umpanbalik yang mampu mengoreksi kesalahan atau mengklarifikasi kesalahan (corrective feedback) kepada peserta didik atau dengan kata lain menerapkan penilaian di dalam kelas yang bertujuan untuk menaikkan prestasi. Hal tersebut berdasarkan pada pemikiran bahwa peserta didik akan meningkat prestasinya jika mereka mengerti dan memahami tujuan belajarnya dan mengetahui bagaimana cara mencapai tujuan tersebut berbasis pada keterampilan berpikir kritis dan kreatifnya.
     Demikian pula dalam proses pembelajaran perlu menerapkan penilaian yang dapat melatih dan mengembangkan peserta didik agar mampu menunjukkan kemampuannya dalam melakukan kerjasama berkelompok dan kepemimpinan, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menempatkan empati pada tempatnya, menghormati perspektif berbeda. Peserta didik juga dilatihkan menjalankan tanggungjawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat, menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain.

Referensi

Badmus, G. A., 2007. Changing Nature of Technical and Vocational Education and Students’ Assessment Methods. ganiyubdms@yahoo.com  www.iaea.info

Bhisma Murti. (2011). Berpikir kritis (critical thinking) versi elektronik Power Point. Universitas Sebelas Maret.

Dir.PSMK.Dirjen Dikdasmen., 2017. Panduan Pendampingan Revitalisasi SMK. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Djemari Mardapi, 2004. Penyusunan Tes Hasil Belajar. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. 

Hermanussen, J., et.al., 2000. Learning style in vocational work experience. Jounal of Vocational Education Research. Vol. 25 (4). 

Johnson, D.W., & Johnson, R. T. 2002. Meaningful Assessment: A manageable and cooperative process. Boston: Allyn & Bacon. 

Kemendikbud. (2013). Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nitko A.J., & Brookhart S.M., 2007. Educational Assessment of Students. Colombus, Ohio. Fifth Edition. Perason.

Nitko A.J., & Brookhart S.M., 2007. Educational Assessment of Students. Colombus, Ohio. Fifth Edition. 

Perason Wirabuana. (2011). Pengaruh model pembeajaran PBL terhadap hasil belajar siswa. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penulisan Policy Brief dan Policy Paper serta Pentingnya Komunikasi dalam Kebijakan

Mengapa policy brief atau policy paper itu penting ? Policy brief atau policy pape r diartikan sebagai jembatan komunikasi, seorang policy analyst setelah menemukan data ( evidance ) yang perlu diberikan dan disampaikan kepada policy maker. Agar tidak hanya menghasilkan  policy paper , tetapi perlu menjadi tindak lanjut dan respon dari policy maker.   Bagaimana seorang policy analyst menghasilkan jembatan komunikasi ? Dalam hal ini policy analyst perlu memahami dan memiliki pengetahuan tentang policy stakeholder terkait dengan isu tertentu seperti (siapa yang terlibat, kedudukan, dll).  Policy analyst juga harus bisa melihat keterkaitan isu dengan lingkungan-lingkungan strategik. Seorang analis kebijakan harus mampu mengevaluasi atau kebijakan existing selama proses berjalan untuk melihat seperti apa hasilnya, dampaknya, bagaimana kinerja policy analyst dan mampu memberikan skor pelaksanaan kebijakan. Policy analyst juga harus mampu memberikan pilihan atau alte...

STAKE'S MODEL

RINGKASAN PERKULIAHAN MODEL EVALUASI STAKE'S Pendahuluan Evaluasi informal : evaluasi yang dikenali dari ketergantungannya pada observasi sepintas lalu, tujuan yang implisit, norma-norma intuitif dan judgement subyektif. Evaluasi formal: evaluasi yang dikenali dari ketergantungan pada cek list struktur visi panduan, dikontro/ dikedalikan dan standarisasi tes siswa. Menekankan pada evaluasi formal : dipandang dapat memberikan sumbangan yang potensial pada program pendidikan. Evaluasi formal dapat dididentifikasikan secara rinci kondisi-kondisi yang mengawali aktivitas (antecedent condition), transaksi-transaksi di dalam kelas (classroom transaction)  dalam keterkaitannya dengan acholastic outcome. Evaluasi formal dapat dipergunakan untuk merefleksikan kesempurnaan, kompeksitas dan penting tidaknya suatu program pendidikan. Aspek-aspek Program yang Dievaluasi Tahap awal (antecedent phase), periode sebelum program diterapkan, mecakup peristiwa dan kondisi yang mungkin berkaitan dengan...
       Pada kesempatan ini, saya akan membagikan salah buku “wajib” untuk persiapan olimpiade fisika tingkat SMA/MA. Ini merupakan buku yang sangat saya rekomendasikan. Tidak jarang soal-soal yang ada disini keluar ketika KSN tingkat kota, provinsi, maupun nasional. Ingat, tak jarang ada anak yang berhasil di KSN karena soal yang dia dapat ketika ujian pernah ia kerjakan sebelumnya sehingga dapat mengerjakan dengan tepat dan efektif. David Morin - Introduction to Classical Mechanics Buku ini sangat cocok untuk persiapan KSN tingkat kota sampai provinsi, karena mekanika yang dipelajari cukup mendalam dan variasi soalnya merupakan model-model soal yang sering keluar di olimpiade. Secara garis besar, buku ini terdiri dari 14 bab, yaitu: 1 . Strategi umum untuk memecahkan permasalahan mekanika. 2. Kesetimbangan, meliputi kesetimbangan gaya dan torsi. 3. Penggunaan F=ma, yang merupakan penerapan dari Hukum II Newton. 4. Osilasi, meliputi osilasi harmonik, ...