Langsung ke konten utama

KEKONYOLAN PENDIDIKAN KITA DI INDONESIA


Ketidakwarasan adalah melakukan hal yang sama secara berulang dan mengharapkan hasil yang berbeda
~ Albert Einstein ~

Oleh : Agantina Venalia S.Pd 

Di Indonesia sering membenarkan kebiasaan yang jelas bukan membiasakan kebenaran. artinya hal yang salah selalu dianggap benar dan yang benar dianggap salah akibat kebiasaan. Bagaimana kok bisa?? Yuk kita bahas satu persatu, beberapa kekonyolan yang tidak masuk akal mengenai sistem pendidikan di Indonesia. (Berlatarbelakang dari pengalaman pribadi) bagi yang setuju kita senasib, bagi yang tidak silakan skip saja. mungkin punya perspektif lain.😅

Pertama,

    Orang dewasa semestinya berkewajiban memberikan kebahagiaan kepada anak-anak. Namun kenyataannya anak-anak, bahkan yang TK sekalipun berkewajiban memberikan kebahagiaan kepada orangtuanya. Orang barat biasa menyebutkan ini dengan istilah "Hyper Parenting". Bahwa anak-anak itu sejak kecil sudah dituntut untuk memenuhi keinginan dari orang tuanya. Banyak orangtua-orangtua di generasi kita yang menganggap bahwa anak  itu dianggap pintar, dianggap hebat kalau dia memenuhi keinginannya sesuai dengan standar dan kriterianya.

    Sewaktu TK namanya juga Taman Kanak-kanak sesuai namanya yaitu Taman bermain untuk anak-anak. Berarti si Lembaga pendidikan itu memfasilitasi anak untuk bermain. Dari permainan itulah ada pembelajaran-pembelajaran yang menyenangkan. Tetapi nyatanya ,au TK namanya atau PAUD namanya disana sudah ditekankan soal hafalan, sudah ada membaca, dan menghitung. Bahkan ada anak TK yang karena tidak bisa membaca dan menghitung, itu dicubit sama gurunya dan bahkan ada orangtuanya disana malah didukung. Sampai nangislah anak itu. Ini mengakibatkan anak orang Indonesia di masa depannya menjadi bodoh. Karena mereka trauma bahwa menganggap pendidikan itu sesuatu yang menyakitkan dan menakutkan dirinya melakukan pemaksaan untuk mengambil alih masa kecilnya dari bermain menjadi belajar. Dan ini menjadi sistemik karena banyak sekali SD-SD di Indonesia yang menerapkan bahwa untuk bersekolah SD harus sudah bisa membaca, menulis dan berhitung. Walaupun ini terdengar konyol, tapi tetap ada faedahnya. Yaitu sekolah-sekolah favorit itu ingin guru-gurunya bisa mengajar dengan sangat mudah, sekalipun bukan guru profesional.  Tapi ini semua rekayasa dan menghancurkan masa depan anak. Karena anak yang semestinya belum bisa membaca, menulis, dan menghitung mereka paksakan untuk seperti itu.

Kedua

    Anak-anak Indonesia itu sudah diketahui bersama bahwa mereka suka bermain. Itu adalah cara mereka bisa mengenal lingkungannya, bisa  beradaptasi dengan kondisi yang ada disekitarnya. Tetapi kekonyolan di Indonesia adalah bahwa anak-anak itu harus dibatasi bermainnya untuk belajar. Ini masalah yang sangat fatal karena begini, kalau kita lihat Mahasiswa-mahasiswa kita yang sekarang, kalau dia harus presentasi di depan kelas, maka yang mereka lakukan adalah membaca. Bayangkan mereka mencari di internet, lalu dilakukan copas, tinggal edit covernya di beri nama kelompoknya bahwa itu bikinan mereka. Dan ketika maju presentasi mereka baca itu makalah. Artinya apa? Dia hampir tidak menggunakan kemampuan kognisinya sama sekali. Misalkan mereka bisa berbicara non stop selama lima belas menit. Banyak anak-anak di Indonesia tidak bisa melakukan hal itu. Mereka itu terbiasa untuk baca. Dan kalau makalahnya di buang atau disimpan. Mereka Cuma bisa diam selama lima belas menit tanpa bicara apapun. Kenapa Mahasiswa-mahasiswa kita yang besarnya seperti itu? Karena waktu kecil mereka dipaksa untuk halu. Jadi mereka diajarkan materi-materi yang tidak mereka butuhkan dan tidak didesain untuk dipahami.

Ketiga

di Indonesia itu sudah sama-sama disepakati bahwa manusia itu adalah unik, spesifik, setiap satu individu dengan individu yang lain itu berbeda. Ada orang yang pintar dalam kemampuan berbahasa tapi buruk dalam matematika. Ada orang yang pintar dalam Matematika tetapi buruk dalam seni. Dan banyak yang lainnya.  Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda agar bisa bekerja sama satu sama lain. Walaupun sudah diketahui itu, konyolnya semuanya harus di standarkan. Matematika bab anu harus diselesaikan dalam sekian minggu. Dan semua anak harus sampai kesitu. Kemudian nilainya juga harus sekian dan sebagainya. Siapa yang menilainya? Sekolah. Bagaimana ceritanya manusia yang unik dan spesifik ini tetapi harus diseragamkan tata kelakuannya, nilainya, aturannya, dan sebagainya. Tentu saja ini merusak anak sejak usia dini. Kan Einstein sering menyinggung waktu ditanya "mengapa anda jenius?", lalu Einstein menjawab: "saya memang Jenius di bidang Fisika, tapi ada orang lain yang jenius di bidang olahraga, ada lagi orang lain yang jenius di bidang sastra".   Nah anak-anak di Indonesia tidak diterima begitu, sehingga ketika anak-anak sedang menggambar itu pertanda dia bakal jenius di bidang seni nantinya. Justru dimarahi sama gurunya. Sementara pelajaran menggambar di SD hanya berapa jam. Akhirnya si Anak yang memiliki bakat untuk menjadi seniman di masa depan di bunuh oleh gurunya sejak usia dini. Akhirnya orang-orang Indonesia hanya hebat di bidang tertentu itupun tidak ikhlas.  Karena sesungguhnya mereka ingin apa tapi ditujukan untuk menjadi ini. Standarisasi untuk dunia pendidikan itu sangat-sangat penting tapi hanya untuk dijadikan pedoman, bukan dijadikan alat untuk menilai dan menentukan masa depan anak.

Keempat 

Belajar yang paling efektif itu adalah belajar yang dibutuhkan. Kalau tidak dibutuhkan tidak usah dipelajari. Kalaupun dipelajari jangan dipaksakan. Tuhan telah memberikan kita naluri, atau insting atau apapun namanya itu. Jadi ketika anak laki-laki lahir, dia bisa berdiri, berjalan kemudian berlari. Testosteronnya mendorong dia untuk berkompetisi, bekerjasama, bersaing, karena itu anak-anak dilatih suka main bola. Karena disitu dia bisa bersosialisasi. Disitu dia diajarkan kalau curang dia akan dimarahi, diajarkan bagaimana caranya berkoordinasi, bagaimana caranya untuk menyepak bola dengan benar dan akurat. Mengapa anak itu diberikan insting itu oleh Tuhan? Karena dimasa depan anak itu sangat membutuhkan itu. Begitu juga dengan anak perempuan misalnya. Kenapa anak perempuan tidak begitu aktif? Karena mereka senang bermain dengan emosi. Banyak berkata, banyak mengasuh bayi walaupun bayi palsu, dan sebagainya. Karena di masa depan dia akan menjadi seperti itu. Naluri itu sudah ditanamkan oleh Tuhan pada manusia tapi demikian akademis dengan kurikulum tertentu mengganti itu semua, merubah itu semua, mengkhianati itu semua. Diganti. Jadi anak itu jangan main bola, lebih baik belajar fisika. Anak jangan main barbie-barbiean, lebih baik belajar biologi yang teoritis dan sebagainya. Mereka belajar yang bukan mereka butuhkan di masa depan, tetapi mereka belajar tentang bangun ruang yang mereka tidak mengerti fungsinya buat apa.

    Di negara yang sudah maju seperti di Finlandia, di Norwegia, atau di Amerika yang sebenarnya tidak maju-maju amat, ini semua sudah disepakati bahwa bakat alam atau bakat warisan dari Tuhan itu jangan diganggu gugat. Sehingga misalnya kita lihat orang Amerika pintar dalam segala bidang. Dalam bidang olahraga amerika serikat, dalam teknologi amerika lagi, dan lain-lain. Mengapa bisa seperti itu? Karena di Negara itu mereka belajar tidak dipaksakan, tetapi anak yang memiliki kemampuan tertentu dikembangkan lagi dan seterusnya. Sementara di Indonesia maaf hanya mengarahkan kita menjadi PNS.

Kelima

Dari tadi kita membahas tentang kekonyolan. lalu apa dan bagaimana solusinya? Negara kita Indonesia ini sangat dikenal dengan pendidikan dan SDM dengan kualitas yang rendah, tetapi kita diapit oleh beberapa Negara OECD yang kualitas pendidikannya baik. Seperti, Singapura, Australia, dan New Zealand. Tetapi orang-orang Indonesia tidak mau meniru itu atau dijadikan sebagai contoh. Karena kita membenarkan "kebiasaan" bukan membiasakan yang "benar".

Contoh, guru-guru di Australia kalau mereka mau jadi guru, mereka diberi latihan retorika, bagaimana menyampaikan pembelajaran dengan baik, menginspirasi dengan baik, mereka diberi pendidikan psikologi anak. Agar mereka mampu melakukan pendekatan dengan anak. Tidak membuat administrasi pembelajaran yang njlimet, sampai dua rim seperti di Indonesia. Simple, sederhana dan manusiawi. Tetapi orang Indonesia tidak diajarkan seperti itu guru-gurunya, mereka dipaksa untuk membuat administrasi dua rim setahun. Solusinya ya guru Indonesia belajar psikologi dan cara pengajaran yang baik seperti di Australia tadi. Tetapi orang Indonesia menolak dan maunya bikin susah yaitu membuat administrasi sebanyak dua rim

Bahkan ada guru yang dianggap guru teladan di sebuah sekolah Negeri. Padahal dia hampir tidak masuk kelas. Sibuk membuat RPP yang tebal itu lalu diserahkan ke kepala sekolah dan dinilai. Di administrasinya dijelaskan bahwa guru tersebut mengajarkan sesuai semua RPP nya. Anak-anak di kelas terabaikan, terbengkalai tapi apa boleh buat yang penting RPP itu. Contoh lagi misalnya ketika mau sertifikasi banyak guru-guru yang sampai banyak tidak mengajar di kelas tetapi dilaporannya disitu tertulis bahwa saya ngajar materinya ini, ini, ini. Itu yang disampaikan sama dinas. Kemudian di dinas, dilihatpun tidak pokoknya oke lulus. Di Jepang di Amerika Serikat, administrasi mengajar itu Cuma tiga sampai lima lembar. Itu adalah panduan kurikulum, kemudian di sekolah guru bebas  melakukan apapun di kelasnya yang penting tujuan pembelajaran tercapai.

Mudah sekali. Di Singapura seperti itu di Australia juga seperti itu. Tetapi orang Indonesia menolak itu. Orang Indonesia maunya ribet. Kalau guru-guru dikumpulkan untuk dikasih pelatihan. Pelatihannya bukan pelatihan yang terkait dengan kebutuhan guru. Tapi kebutuhan TU, bikin administrasi. Belum lagi ditambah dengan adanya kurikulum baru setelah kurikulum 2013 yang sudah matang dirancang tetap saja tidak ada perubahan, kemudian disederhanakan dalam kurun 1 tahun oleh pihak kementrian pendidikan. sudah diubahlagi menjadi (KURMA) Kurikulum Merdeka sebuah kurikulum yang dianggap menjadi obat dari pendidikan ini. diuji cobakan tidak sampai 1 tahun oleh sekolah penggerak, kemudian di sama ratakan dan disapu babat semua sekolah awal tahun pembelajaran 2022/2023 saat ini. Apakah ini yang sebenar nya jadi solusi???? atau membuat kegilaan dan kekonyolan akibat ketidak warasan. yang jelas-jelas terjadi kekeliruan apakah KURMA ini bisa menjawab hambatan dari rendahnya kualitas pendidikan kita di Indonesia. kita lihat saja!!!!!!


Salam Termanis ku,

 
Guru Muda Indonesia



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penulisan Policy Brief dan Policy Paper serta Pentingnya Komunikasi dalam Kebijakan

Mengapa policy brief atau policy paper itu penting ? Policy brief atau policy pape r diartikan sebagai jembatan komunikasi, seorang policy analyst setelah menemukan data ( evidance ) yang perlu diberikan dan disampaikan kepada policy maker. Agar tidak hanya menghasilkan  policy paper , tetapi perlu menjadi tindak lanjut dan respon dari policy maker.   Bagaimana seorang policy analyst menghasilkan jembatan komunikasi ? Dalam hal ini policy analyst perlu memahami dan memiliki pengetahuan tentang policy stakeholder terkait dengan isu tertentu seperti (siapa yang terlibat, kedudukan, dll).  Policy analyst juga harus bisa melihat keterkaitan isu dengan lingkungan-lingkungan strategik. Seorang analis kebijakan harus mampu mengevaluasi atau kebijakan existing selama proses berjalan untuk melihat seperti apa hasilnya, dampaknya, bagaimana kinerja policy analyst dan mampu memberikan skor pelaksanaan kebijakan. Policy analyst juga harus mampu memberikan pilihan atau alte...

STAKE'S MODEL

RINGKASAN PERKULIAHAN MODEL EVALUASI STAKE'S Pendahuluan Evaluasi informal : evaluasi yang dikenali dari ketergantungannya pada observasi sepintas lalu, tujuan yang implisit, norma-norma intuitif dan judgement subyektif. Evaluasi formal: evaluasi yang dikenali dari ketergantungan pada cek list struktur visi panduan, dikontro/ dikedalikan dan standarisasi tes siswa. Menekankan pada evaluasi formal : dipandang dapat memberikan sumbangan yang potensial pada program pendidikan. Evaluasi formal dapat dididentifikasikan secara rinci kondisi-kondisi yang mengawali aktivitas (antecedent condition), transaksi-transaksi di dalam kelas (classroom transaction)  dalam keterkaitannya dengan acholastic outcome. Evaluasi formal dapat dipergunakan untuk merefleksikan kesempurnaan, kompeksitas dan penting tidaknya suatu program pendidikan. Aspek-aspek Program yang Dievaluasi Tahap awal (antecedent phase), periode sebelum program diterapkan, mecakup peristiwa dan kondisi yang mungkin berkaitan dengan...
       Pada kesempatan ini, saya akan membagikan salah buku “wajib” untuk persiapan olimpiade fisika tingkat SMA/MA. Ini merupakan buku yang sangat saya rekomendasikan. Tidak jarang soal-soal yang ada disini keluar ketika KSN tingkat kota, provinsi, maupun nasional. Ingat, tak jarang ada anak yang berhasil di KSN karena soal yang dia dapat ketika ujian pernah ia kerjakan sebelumnya sehingga dapat mengerjakan dengan tepat dan efektif. David Morin - Introduction to Classical Mechanics Buku ini sangat cocok untuk persiapan KSN tingkat kota sampai provinsi, karena mekanika yang dipelajari cukup mendalam dan variasi soalnya merupakan model-model soal yang sering keluar di olimpiade. Secara garis besar, buku ini terdiri dari 14 bab, yaitu: 1 . Strategi umum untuk memecahkan permasalahan mekanika. 2. Kesetimbangan, meliputi kesetimbangan gaya dan torsi. 3. Penggunaan F=ma, yang merupakan penerapan dari Hukum II Newton. 4. Osilasi, meliputi osilasi harmonik, ...