TEKNIK MENGIDENTIFIKASI MISKONSEPSI
A.
PENGERTIAN KONSEP
Konsep adalah suatu ide dan gagasan yang mendasari
suatu objek yang ditungkan dalam suatu istilah yang digunakan untuk memahami
hal-hal lain dalam suatu fenomena, sehingga ide dapat dimengerti oleh orang
lain dengan jelas. Konsepsi merupakan cara pandang seseorang dalam menangkap
suatu konsep. Konsepsi terbagi menjadi yaitu prakonsepsi dan miskonsepsi.
B. PENGERTIAN MISKONSEPSI
Miskonsepsi atau salah konsep menunjuk pada suatu
konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima
para pakar dalam bidang matematika (Suparno, 2013: 4). Miskonsepsi merupakan
penjelasan yang salah dan suatu gagasan yang tidak sesuai dengan pengertian
ilmiah yang diterima para ahli. Miskonsepsi dapat merupakan pengertian yang
tidak akurat tentang konsep, penguasaan konsep yang salah, klasifikasi
contoh-contoh yang salah tentang penerapan konsep, pemaknaan konsep yang
berbeda, kekacauan konsep yang berbeda dan hubungan hirarki konsep-konsep yang
tidak benar.
C.
JENIS-JENIS MISKONSEPSI
1.
Miskonsepsi
jenis pertama dipanggil dengan “pemahaman konsep awal” (preconceived notions)
(Committee on Undergraduate Science Education 1997; Brown and Clement, 1991;
Marshall 2003). Miskonsepsi jenis ini ialah konsepsi yang sering didasarkan
pada pengalaman sehari-hari. Baik yang ada di sekitar sekolah ataupun di luar
lingkungan sekolah. Ketika seseorang memasuki alam sekolah, ia akan menerima
satu penjelasan secara ilmiah yang tidak instuitif tentang yang dilihatnya pada
masa lalu (Committee on Undergraduate Science Education, 1997).
Ternyata
dengan adanya pemahaman konsep awal telah menyebabkan kesulitan bagi siswa
memahami konsep panas, energi, dan gravitasi (CUSE-Brown & Clement 1991).
Banyak ahli melihat miskonsepsi jenis ini sebagai sesuatu yang berlebihan
daripada yang diperlukan, tetapi siswa lebih menyukainya karena nampaknya lebih
rasional (Committee on Undergraduate Science Education, 1997). Keyakinan pada
pemahaman konsep awal tetap tidak berubah walaupun setelah proses pengajaran
& pembelajaran dijalankan, oleh karena itu menjadi penyebab bagi proses
pembelajaran (Committee on Undergraduate Science Education, 1997; McDermott,
1991).
2.
Miskonsepsi jenis kedua dipanggil dengan “keyakinan
tidak ilmiah” (nonscientific beliefs) (Committee on Undergraduate
Science Education, 1997; Marshall, 2003). Keyakinan tidak ilmiah adalah seluruh
pandangan yang dipelajari oleh siswa daripada sumber-sumber yang berbeda dengan
pendapat para ahli. Satu cara yang muncul ialah pengajaran secara mitos atau
agama yang tidak ada bukti kebenaran secara ilmiah. Evolusi dan Big Bang adalah
dua teori yang satu tidak sesuai dengan konsep agama dan yang kedua sesuai
dengan pandangan agama (Podolner, 2000).
3.
Miskonsepsi
yang ketiga dipanggil dengan “pemahaman konseptual salah” (conceptual
misunderstandings). Lazimnya jenis miskonsepsi ini muncul ketika siswa berhubungan
dengan pendapat para ahli dalam suatu cara yang tidak menyebabkan siswa tersebut
menyelesaikan paradoks atau konflik akibat anggapan konsep awal dan keyakinan tidak
ilmiah (Committee on Undergraduate Science Education, 1997). Siswa-siswa mengakhiri
pembelajaran dengan satu perasaan kurang puas dan tidak mampu untuk menjelaskan
apa yang telah dipelajarinya. Hasilnya siswa tersebut membangun model salah yang
membatasi proses pendidikan di masa yang akan datang (Podolner, 2000).
4.
Miskonsepsi
yang keempat dipanggil dengan “miskonsepsi bahasa daerah” (Vernacular
misconceptions) (Committee on Undergraduate Science Education, 1997;
Marshall
2003), yang muncul daripada penggunaan kata-kata yang berarti sesuatu kepada banyak
orang yang bukan pakarnya, hal yang sama akan sangat berbeda ketika dibahas
dari sudut pandang ilmiah.
5.
Miskonsepsi
jenis yang kelima dipanggil dengan “miskonsepsi berdasarkan fakta” (factual
misconceptions) adalah kesalahan yang terjadi pada masa kecil dan tetap
tidak berubah hingga ke umur dewasa (Committee on Undergraduate Science
Education, 1997; Marshall, 2003). Orang tua, guru, dan bahkan buku teks boleh
jadi penyebab utama timbulnya kesalahan ini. Buku teks mereka sendiri dapat
menjadi kesalahan dalam penyebaran miskonsepsi. Banyak ahli sains terkenal
mencatat bahwa mereka tidak bisa membantu untuk menyelesaikan hal tersebut.
D.
PENYEBAB MISKONSEPSI
Menurut Suparno (2013: 30-52) mengemukakan bahwa
penyebab miskonsepsi ada enam kelompok antara lain:
a.
Miskonsepsi dari Sudut Filsafat Kontruktivisme
Pengertian
konstruktivisme bahwa miskonsepsi itu merupakan wajar dalam proses pembentukan
pengetahuan oleh seseorang yang sedang belajar. Dengan adanya miskonsepsi itu, sebenarnya
menunjukan bahwa pengetahuan merupakan bentukan dari siswa bukan dari guru. Pengertian
filsafat kontruktivisme sosial, konstruksi pengetahuan siswa tidak hanya
dilakukan sendiri tetapi juga dibantu oleh konteks dan lingkungan mereka,
termasuk teman-teman yang sering berdiskusi bersama.
b.
Siswa
Miskonsepsi
dalam fisika paling banyak ditemukan dari diri siswa sendiri, dan dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1)
Konsep Awal
Siswa
Siswa
sudah mempunyai konsep awal mengenai suatu bahan sebelum siswa mengikuti
pelajaran di bawah bimbingan guru. Konsep awal ini sering mengandung
miskonsepsi sehingga berdampak untuk pelajaran berikutnya. Miskonsepsi akan
lebih banyak jika yang mempengaruhi pembentukan konsep pada siswa juga
mempunyai banyak miskonsepsi seperti orangtua, teman sekolah dan pengalaman di
lingkungan siswa.
Contohnya
siswa memperoleh miskonsepsi pengalaman hidup siswa tentang matahari
mengelilingi bumi dan matahari lebih kecil dari bumi. Miskonsepsi siswa tersebut
bahwa matahari lebih kecil daripada bumi sangat jelas dipengaruhi oleh
pengalamannya bahwa bumi terasa sangat besar dan luas sedangkan matahari hanya
kelihatan sebesar bola.
2)
Pemikiran
Asosiatif Siswa
Pemikiran
Asosiatif adalah jenis pemikiran yang mengasosiasikan atau menganggap suatu
konsep selalu sama dengan konsep yang lain. Asosiasi siswa terhadap
istilah-istilah sehari-hari terkadang membuat miskonsepsi menurut Arons, 1981;
Gilbert, Watts, Osborne, 1982; Marioni; 1989 dalam (Suparno 2013:36). Contohnya
siswa mengasosikan gaya dengan aksi atau gerakan, di dalam konsep fisika tidak
selalu benar. Beberapa siswa menyakini bahwa tidak terjadi gaya pada kereta
yang didorong karena kereta itu tetap berhenti. Konsep yang benar adalah kereta
itu tetap memperoleh gaya, hanya saja gaya tersebut tidak cukup kuat untuk
menggerakkan kereta.
3)
Pemikiran
Humanistik
Pemikiran
Humanistik adalah pemikiran yang memandang semua benda dari pandangan
manusiawi. Gilbert, Watts, Osborne, 1982 mengemukakan dalam (Suparno 2013: 36)
siswa sering memandang semua benda dari pandangan manusiawi. Benda-benda dan
situasi dipikirkan dalam term pengalaman orang dan secara manusiawi. Tingkah
laku benda dipahami seperti tingkah laku manusia yang hidup, sehingga tidak
cocok. Contohnya suatu benda terletak di atas meja pun memberikan suatu gaya
pada meja tersebut, padahal ia tidak bergerak.
4)
Reasoning
yang Salah
Reasoning
yang salah dapat terjadi karena logika yang salah dalam mengambil kesimpulan
atau dalam menggeneralisasi, sehingga terjadi miskonsepsi. Menurut Comins
(1993) mengemukakan dalam Suparno (2013: 38) Miskonsepsi juga disebabkan oleh
reasoning atau penalaran siswa yang tidak lengkap atau salah. Alasan yang tidak
lengkap dapat disebabkan karena informasi yang diperoleh data yang didapatkan
tidak lengkap. Akibatnya, siswa menarik kesimpulan secara salah dan ini
menyebabkan timbulnya miskonsepsi siswa.
5)
Intuisi yang
Salah
Instuisi
adalah perasaan dalam diri seseorang yang secara spontan mengungkapkan sikap
atau gagasannya tentang sesuatu sebelum diteliti secara obyektif dan rasional.
Contoh siswa mempunyai intuisi bahwa jika benda yang besar akan jatuh bebas
lebih cepat daripada benda yang kecil. Konsep yang benar adalah benda yang
dijatuhkan jatuhnya bersamaan.
6)
Tahap
Perkembangan Kognitif Siswa
Perkembangan
kognitif siswa yang tidak sesuai dengan bahan yang dibahas dapat menyebabkan
miskonsepsi siswa. Siswa yang masih dalam tahap operasional konkret jika
mempelajari bahan yang abstrak akan sulit menerima dan sering salah mengerti
tentang konsep bahan tersebut. Agar konsep ketidakpastian itu dapat
dikonstruksi secara tepat, maka konsep itu perlu disajikan dalam contoh-contoh
yang konkret. Dalam hal ini, bahan fisika perlu disusun menurut tahap
perkembangan kognitif siswa.
7)
Kemampuan Siswa
Kemampuan
siswa juga mempunyai pengaruh pada miskonsepsi siswa. Siswa yang kurang
berbakat atau kurang mampu dalam memahami fisika sering mengalami kesulitan
menangkap konsep yang benar dalam proses belajar. Siswa yang IQ-nya rendah juga
dengan mudah melakukan miskonsepsi karena siswa, dalam mengontruksi pengetahuan
fisika, tidak dapat mengontruksi secara lengkap dan utuh. Siswa tidak menangkap
konsep yang benar dan merasa bahwa itulah konsep yang benar, maka terjadi
miskonsepsi.
8)
Minat Belajar
Siswa
Siswa
yang tidak tertarik dengan ilmu fisika biasanya kurang memperhatikan penjelasan
guru dan bahkan tidak mau mendengarkan gurunya menjelaskan fisika. Akibatnya
akan lebih mudah salah menangkap dan membentuk miskonsepsi. Sedangkan siswa
yang menyukai fisika biasanya lebih menaruh perhatian kepada penjelasan guru
dan senang mempelajari bahan fisika dari buku-buku secara lebih teliti dan
mendalam. Akibatnya mereka dapat menangkap konsep fisika yang lebih lengkap dan
mendalam.
c.
Guru
Miskonsepsi
siswa dapat terjadi karena miskonsepsi yang dibawa oleh guru. Guru yang tidak
menguasai bahan atau mengerti fisika secara benar akan menyebabkan siswa
mendapatkan miskonsepsi. Terlebih bagi guru SD yang menjadi dasar awal
pendidikan fisika, agar menjelaskan konsepnya secara benar kepada siswa.
d.
Buku Teks
Beberapa
miskonsepsi berasal dari buku yang digunakan siswa. Kesalahan yang tertulis
dalam buku teks akan mudah dicerna siswa dengan demikian siswa memperoleh
miskonsepsi. Suparno (2013: 44) miskonsepsi yang terjadi pada tiga macam buku
(Buku Teks, Buku Fiksi Sains (Science
Fiction) dan Kartun (Cartoon))
sebagai berikut:
1)
Buku Teks
Buku
teks juga dapat menyebarkan miskonsepsi. Dari bahasanya yang sulit atau karena
penjelasanya yang tidak benar. Banyak siswa mempunyai miskonsepsi karena siswa
tidak tahu bagaimana membaca dan belajar dari buku fisika.
2)
Buku Fiksi Sains
(Science Fiction)
Ada
banyak negara menerbitkan buku fiksi sains untuk menarik anak-anak yang
menyukai bidang sains termasuk fisika. Karena tujuannya untuk menarik siswa,
maka seringkali pengarang membuat gagasan fisika secara sederhana dan bahkan
lebih rumit. Baik disatu sisi buku ini baik, karena membuat anak senang membaca
dan nantinya mempelajari fisika, tetapi banyak hal juga yang dapat memunculkan
miskonsepsi pada diri anak (Comins, 1993).
3)
Kartun (Cartoon)
Gambar-gambar
kartun dalam majalah sains sering kali dapat memunculkan dan menyebabkan
miskonsepsi pada siswa bila tidak sesuai hukum dan teori fisika yang berlaku.
Kartun sendiri dapat sangat menarik bagi anak-anak, namun bila konsep fisikanya
keliru atau tidak tepat, dapat membuat siswa mempunyai miskonsepsi. Maka
penting bagi para pendidik yang menganjurkan bacaan kartun untuk fisika, selalu
memantau konsep yang dipunyai siswa, apakah tepat atau tidak, dengan konsep
para ahli fisika.
e.
Konteks
Kesalahan
siswa dapat berasal dari kekacauan bahasa yang digunakan, karena bahasa
sehari-hari lain dengan bahasa ilmiah. Siswa perlu dibantu dengan penjelasan
yang tepat dengan contoh- contoh yang tepat. Penyebab miskonsepsi lainnya
adalah konteks, yang sudah diringkas oleh Suparno dalam bukunya (2013: 47)
adalah:
1)
Pengalaman siswa
Dalam
pengalaman beberapa siswa, gaya dianggap sebagai suatu sifat yang dipunyai
suatu benda. Misalnya, mereka melihat bagaimana teman-temannya bergaya, mempunyai
tenaga untuk mengangkat barang ini atau barang itu. Gagasan yang diperoleh dari
pengalaman bahwa gaya itu dipunyai oleh suatu benda, sehingga pemahaman bahwa
gaya adalah sifat dari suatu benda.
2)
Bahasa
sehari-hari
Bahasa
sehari-hari dapat menimbulkan terjadinya miskonsepsi. Bahasa yang digunakan
sehari-hari dibawa ke dalam kelas dan akhirnya menyebabkan miskonsepsi.
Beberapa miskonsepsi datang dari bahasa sehari-hari yang mempunyai arti lain
dengan bahasa fisika (Gilbert, Watts, Osborne, 1982). Misalnya dalam bahasa
sehari-hari siswa mengerti dan menggunakan istilah berat dengan unit kilogram.
tetapi dalam fisika, berat adalah suatu gaya, dan unitnya adalah Newton.
Istilah bertahun-tahun itu dari luar sekolah, maka sangat sulit untuk mengubah
pengertian yang telah tertanam tersebut.
3)
Teman lain
Mengerjakan
PR, mengerjakan soal fisika, atau melakukan praktikum, banyak siswa melakukan
belajar bersama. Siswa dengan mudah terpikat pada apa yang diungkapkan,
dipikirkan, dan dibuat oleh teman-teman atau kelompoknya, terlebih yang vokal.
Demikian dalam belajar, bila teman-temannya mengungkapkan dengan yakin, suatu
gagasan tentang konsep fisika, meskipun salah, siswa dengan mudah percaya dan
menyetujuinya. Hal ini tampak pada siswa saat mengerjakan PR, karena satu teman
dianggap pandai, dan kebetulan membuat kesalahan konsep dan jawaban, semua
teman menyalin persis dan mengalami kesalahan yang sama.
4)
Keyakinan dan
ajaran agama
Keyakinan
atau agama siswa dapat juga menjadi penyebab miskonsepsi dalam bidang fisika.
Hal ini diungkapkan oleh Commins (1993) dalam (Suparno 2013:49), dalam meneliti
miskonsepsi tentang astronomi. Keyakinan atau ajaran agama yang diyakini secara
kurang tepat sering membuat siswa dapat menerima penjelasan ilmu pengetahuan.
Contoh penyebab dari keyakinan adalah di tanah jawa ada mitos soal gerhana
matahari. Fenomena tersebut terjadi saat raksasa Betara Kala atau Rahu menelan
matahari karena dendamnya pada Sang Surya atau Dewa Matahari. Contoh diatas
menjelaskan bahwa keyakinan dan ajaran agama dapat menyebabkan terjadinya
miskonsepsi.
f.
Metode Mengajar
Metode
mengajar yang digunakan guru dapat memunculkan miskonsepsi siswa. Guru perlu
kritis dengan metode yang digunakan dan tidak membatasi diri dengan satu metode
saja. Berikut adalah beberapa contoh metode-metodenya antara lain:
1)
Metode mengajar
yang diberikan guru hanya berisi ceramah dan menulis.
2)
Model tidak
mengungkapkan miskonsepsi siswa.
3)
Metode tidak
mengoreksi PR yang salah.
4)
Model Analogi.
5)
Model praktikum.
6)
Model diskusi
Para ahli dapat
menyimpulkan bahwa penyebab miskonsepsi disebabkan oleh siswa sendiri, guru
yang mengajar, konteks pembelaran, cara mengajar dan buku teks. Penyebab
pertama dari siswa adalah seperti prakonsepsi siswa sebelum memperoleh
pelajaran, lingkungan masyarakat di mana siswa tinggal, teman dekat, pengalaman
hidup, pengalaman menangkap pengertian dan minat siswa. Penyebab kedua dari
guru, guru yang salah mengajar mempunyai andil dalam menambah miskonsepsi
siswa. Maka guru harus bersungguh-sungguh menguasai bahan secara benar.
Penyebab ketiga buku teks, buku teks yang terjadi keliru atau mengungkapkan
konsep yang salah akan berpengaruh dapat membingungkan siswa dan dapat
mengembangkan miskonsepsi pada siswa.
E.
CARA MENGIDENTIFIKASI MISKONSEPSI
Sebelum guru dapat membantu
dalam menangani miskonsepsi yang dimiliki siswa, guru harus lebih dahulu
mengetahui miskonsepsi yang dimiliki siswa. Suparno (2013:121) ada berbagai
cara-cara untuk mengidentifikasi atau mendeteksi miskonsepsi yaitu:
a.
Peta Konsep (Concept
Maps)
Peta konsep dapat digunakan untuk mendeteksi
miskonsepsi siswa dalam bidang fisika. Peta konsep yang mengungkapkan hubungan
berarti antara konsep-konsep dan menekankan gagasan- gagasan pokok yang disusun
hirarkis, dengan jelas dapat mengungkapkan miskonsepsi siswa yang digambarkan
dalam peta konsep tersebut (Novak & Gowin 1984: Feldsine, 1987: Fowler,
1987: Moreira, 1987) dalam (Suparno 2013:121). Penelitian dari Feldsine (1987)
dan Fowler (1987), mendapatkan bahwa peta konsep adalah alat yang baik untuk mengidentifikasi,
baik kerangka alternatif atau miskonsepsi siswa. Menurut Feldsine, miskonsepsi
siswa dapat diidentifikasi dengan mudah oleh guru dari peta konsep siswa dan
dapat dibantu oleh interview.
b.
Tes Multiple
Choice dengan Reasoning Terbuka
Tes Multiple Choice
dengan Reasoning Terbuka dapat
memudahkan dan menganalisis dalam mencari kesalahan atau miskonsepsi. Suparno
(2013:123) menurut Amir dkk (1987), menggunakan tes pilihan ganda (multiple choice) dengan pertanyaan
terbuka di mana siswa harus menjawab dan menulis mengapa mempunyai jawaban
seperti itu. Jawaban-jawaban yang salah dalam pilihan ganda ini selanjutnya
dijadikan bahan tes berikutnya.
c.
Tes Esai Tertulis
Guru dapat mempersiapkan suatu tes esai yang memuat
beberapa konsep fisika yang memang hendak diajarkan atau yang sudah diajarkan.
Dari tes tersebut dapat diketahui miskonsepsi yang dibawa siswa.
d.
Wawancara Diagnosis
Wawancara berdasarkan beberapa konsep fisika
tertentu dapat dilakukan juga untuk melihat konsep alternatif atau miskonsepsi
pada siswa. Guru memilih beberapa konsep fisika yang diperkirakan sulit
dimengerti siswa, atau beberapa konsep fisika yang pokok dari bahan yang hendak
diajarkan. Wawancara dapat berbentuk bebas dan terstruktur. Dalam wawancara
bebas, guru atau peneliti bebas bertanya siswa dan siswa bebas dalam menjawab.
e.
Diskusi dalam kelas
Siswa di dalam kelas mengungkapkan gagasan mereka
tentang konsep yang sudah diajarkan atau hendak diajarkan. Dari diskusi
tersebut, guru atau seorang peneliti dapat mengerti konsep- konsep alternatif
yang dipunyai siswa.
Beberapa cara untuk
mendeteksi miskonsepsi pada siswa yaitu dengan wawancara, peta konsep, tes
esai, tes pilihan ganda dengan alasan, dan diskusi di kelas. Beberapa cara itu
bersama-sama untuk melengkapi, seperti tes esai dengan wawancara. Hal yang
harus ditekankan adalah bahwa siswa diberi kesempatan mengungkapkan gagasan
sehingga dapat diketahui miskonsepsi yang terjadi.
F.
CARA MENGATASI MISKONSEPSI
Ada banyak cara untuk
membantu siswa mengatasi miskonsepsi dalam bidang fisika. Banyak penelitian
telah dilakukan oleh para ahli pendidikan fisika, biologi, kimia, dan astronomi
yang mengungkapkan bermacam-macam kiat yang dibuat untuk membantu siswa
memecahkan persoalan miskonsepsi.
Secara garis besar langkah yang digunakan untuk membantu
mengatasi miskonsepsi adalah:
a.
Mencari atau mengungkap miskonsepsi yang dilakukan
siswa.
b.
Mencoba menemukan penyebab miskonsepsi tersebut.
c.
Mencari perlakuan yang sesuai untuk mengatasi.
Secara umum kiat yang
tepat untuk membantu siswa mengatasi siswa adalah dengan mencari kesalahan,
sebab-sebab kesalahan, dengan mengetahui kesalahan tersebut guru dapat
menentukan cara yang sesuai. Suparno (2013: 81) mengemukakan ada cara untuk
menangani miskonsepsi yang dirangkumkan pada tabel berikut.
Tabel
Kiat Mengatasi Miskonsepsi
|
Sebab Utama |
Sebab
Khusus |
Kiat
mengatasi |
|
Siswa |
§ Prakonsepsi § Pemikiran Asosiatif § Pemikiran humanistik § Reasoning
tidak lengkap § Intuisi yang salah § Perkembangan kognitif siswa § Kemampuan Siswa § Minat Belajar Siswa |
v Dihadapkan pada kenyataan v Dihadapkan pada kenyataan dan peristiwa anomali v Dihadapkan pada kenyataan dan anomali v Dilengkapi; dihadapkan pada kenyataan v Dihadapkan pada kenyataan; anomali; rasionalitas v Diajar sesuai level perkembangan; mulai dengan konkret, baru kemudaian
abstrak v Dibantu pelan-pelan v Motivasi, kegunaan fisika, variasi pembelajaran |
|
Guru |
§ Tidak menguasai bahan § Tidak memberi waktu siswa untuk mengungkapkan
gagasan § Relasi guru-siswa jelek |
v Belajar lagi, lulusan bidang fisika v Memberi waktu siswa untuk mengungkapkan
gagasan secara lisan atau tertulis v Relasi yang enak, akrab, humor |
|
Buku Teks |
§ Penjelasan yang keliru § Salah tulis § Level kesulitan tulisan § Siswa tidak tahu cara membaca
buku teks § Buku fiksi sains keliru konsep § Kartun salah konsep |
v Dikoreksi dan dibenarkan v Dikoreksi secara teliti v Disesuaikan dengan level siswa v Dilatih oleh guru cara mengguanakan teks v Dibenarkan v Dikoreksi |
|
Konteks |
§ Pengalaman siswa § Bahasa sehari-hari berbeda § Teman diskusi keliru § Keyakinan dan agama |
v Dihadapkan dengan pengalaman baru sesuai konsep fisika v Dijelaskan perbedaannya dengan contoh v Mengungkapkan hasil dan dikritisi guru Dijelaskan perbedaannya |
|
Meode Mengajar |
§ Hanya ceramah dan menulis § Tidak mengungkapkan miskonsepsi siswa dan
tidak mengoreksi PR § Model analogi |
v Variasi, dirancang dengan pertanyaan v Guru memberikan kesempatan siswa mengungkapkan gagasan v Dikoreksi cepat dan ditunjukkan salahnya v Ditunjukkan kemungkinan salah konsep |
DAFTAR PUSTAKA
Brown
and Clement, (1991). Overcoming misconceptions via analogical reasoning:
Factors influencing
understanding in a teaching experiment. Instructional Science, 18,
237Ð2ss61.
Committee on Undergraduate Science
Education. (1997). Misconceptions as Barriers to
Understanding Science. Washington: National Academy Press.
Marshall
H.A., (2003). Countering Astronomy Misconceptions in High School Students,
In partial fulfillment of SCE 5305 University of Texas at Dallas April 28.
McDermott,
(1991). What we teach and what is learned: closing the gap. American Journal
of Physics, 59 (4), 301-305.
Podolner A.S. 2000. Eradicating physics
misconceptions using the Conceptual Change Method, Department of Education
Kalamazoo College Kalamazoo, Michigan.
Suparno, Paul. 2013. Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam
Pendidikan Fisika. Jakarta: Grasindo.
semoga bermanfaat
BalasHapus