TUGAS
TERSTRUKTUR
MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF THINK,TALK, WRITE
(COOPERATIVE TTW
LEARNING MODEL)
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Strategi Pembelajaran
Jurusan Pendidikan matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Program Studi Pendidikan Fisika
OLEH
AGANTINA VENALIA ( F1051171045)
DOSEN PENGAMPU :
DR.HARATUA TIUR MARIA,S M.Pd
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TANJUNGPURA
PONTIANAK
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
saat
ini kemajuan Pendidikan salah satunya tegantung dari apa yang dilakukan guru
dalam pembelajaran dikelas. Guru diharapkan mampu lebih mengembangkan
profesionalisme dalam proses pembelajaran siswa yang fungsinya sebagai
fasilitator pembelajaran. Terdapat banyak teori pembelajaran yang dikembangkan
para Ahli dalam upaya memberikan masukan serta pengetahuan bagi para guru yang
bertujuan untuk menjadikan siswa didikannya unggul dan menjadi jaminan bagi
masa depan siswa itu sendiri baik yang akan melanjutkan Pendidikan atau yang
akan masuk ke masyarakat.
Prosespembelajaran
dikelas menjadi salah satu tahap yang sangat menentukan keberhasilan belajar
siswa. Upaya untuk meningkatkan kualitas Pendidikan dan pengajaran dapat
dilakukan terhadap berbagai komponen seperti ; siswa, guru,Indikator
pembelajaran,isi pembelajaran,metode,media dan evaluasi. Guru sebagai salah
satu mediator dan komponen pengajaran mempunyai peraanan yang sangat penting
dalam mencapai tujuan pembelajaran dan sangat menentukan keberhasilan proses
Pendidikan, karena guru terlibat langsung di dalamnya. Belajar siswa berkaitan
dengan motivasi belajarnya dalam hal ini hubungan antar siswa dikelas harus
terjalin dengan baik. Siswa yang merasa tidak diterima oleh kelasnya akan
merasa tidak betah berada dalam kelasnya itu, sehingga motivasi belajarnya pun
berkurang. Oleh karena itu, guru perlu melakukan tindakan pengondisian dimana
siswa dapat melakukan kerja sama dalam
kelompok yang lebih kecil dan salah satu strateginya adalah dengan pembelajaran
berkelompok atau kooperatif dengan pemberian tugas kelompok. Motivasi belajar
juga terpengaruh oleh keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran siswa merasa
terlibat aktif maka akan timbul kepercayaan diri dan semangat belajar lebih.
Untuk itu, pembelajaran yang berpusat pada siswa sangat disarankan dilakukan
pada guru dalam proses peembelajaran dikelas.
Mengingat proses belajar siswa yang tergantung motivasi yyang tergantung motivasi seperti
yang telah diuraikan, maka penulis merasa perlu untuk memilih metode
pembelajaran yang mencakup keduanya yaitu pembelajaran kooperatif dan
pembelajaran yang berpusat pada siswa serta mampu mengkonstruksi pengetahuan
konsep siswa.Untuk itu,penulis mengangkat tentang penerapan pembelajaran
Think-talk-write yang termasuk pembelajaran yang bersifat kooperatif yang
berpusat pada siswa. Selain itu, jika ditinjau dari langkah-langkah
pembelajarannya model think-talk-write juga termasuk model pembelajaran yang
beraliran konstruktivitasme. Berlatarbelakang yang telah dikemukakan maka
penulis akan membahas penerapan metode think,talk dan write (TTW) Dalam
pembelajaran fisika.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
Pengertian dan konsep model pembelajaran Think,talk, write (TTW) ?
2.
Manfaat
dan Tujuan model pembelajaran Think,talk write??
3.
Bagaimana
prosedur/langkah-langkah penerapan model pembelajarann think,talk,write?
4.
Apa
prinsip model pembelajaran Think,talk,write dalam pembelajaran fisika?
5.
Apa
kelebihan dan kelemahan model pembelajaran think,talk write?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Dan Konsep Model Pembelajaran Think,Talk,Write (TTW)
Model Pembelajaran “Think Talk
Write”. adalah suatu strategi pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
Menurut Huinker dan Laughlin (1996:82) menyatakan bahwa “The think-talk-write strategy builds in time for thought and reflection and for the organization of ides and the testing of those ideas before students are expected to write. The flow of communication progresses from student engaging in thought or reflective dialogue with themselves, to talking and sharing ideas with one another, to writing”.
Artinya, Model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) membangun pemikiran, merefleksi, dan mengorganisasi ide, kemudian menguji ide tersebut sebelum peserta didik diharapkan untuk menulis. Alur model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) dimulai dari keterlibatan peserta didik dalam berpikir atau berdialog reflektif dengan dirinya sendiri, selanjutnya berbicara dan berbagi ide dengan temannya, sebelum peserta didik menulis.
Suatu metode pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa adalah strategi think-talk-write (TTW). Strategi yang diperkenalkan oleh Huinker & Laughlin (1996: 82) ini pada dasarnya dibangun melalui berfikir, berbicara, dan menulis. Alur kemajuan strategi TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam berfikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis. Suasana seperti ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok heterogen dengan 3-5 siswa. Dalam kelompok ini siswa diminta membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengarkan dan membagi ide bersama teman kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.
Menurut Huinker dan Laughlin (1996:82) menyatakan bahwa “The think-talk-write strategy builds in time for thought and reflection and for the organization of ides and the testing of those ideas before students are expected to write. The flow of communication progresses from student engaging in thought or reflective dialogue with themselves, to talking and sharing ideas with one another, to writing”.
Artinya, Model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) membangun pemikiran, merefleksi, dan mengorganisasi ide, kemudian menguji ide tersebut sebelum peserta didik diharapkan untuk menulis. Alur model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) dimulai dari keterlibatan peserta didik dalam berpikir atau berdialog reflektif dengan dirinya sendiri, selanjutnya berbicara dan berbagi ide dengan temannya, sebelum peserta didik menulis.
Suatu metode pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa adalah strategi think-talk-write (TTW). Strategi yang diperkenalkan oleh Huinker & Laughlin (1996: 82) ini pada dasarnya dibangun melalui berfikir, berbicara, dan menulis. Alur kemajuan strategi TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam berfikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis. Suasana seperti ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok heterogen dengan 3-5 siswa. Dalam kelompok ini siswa diminta membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengarkan dan membagi ide bersama teman kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.
Aktivitas berfikir
(Think) dan dilihat dari proses membaca teks fisika atau berisikan cerita
fisika kemudian membuat catatan apa yang telah dibaca.Dalam tahap ini siswa
secara individu memikirkan kemungkinan jawaban (strategi penyelesaian). Membuat
catatan yang telah dibaca baik itu berupa apa yang diketahuinya, maupun
langkah-langkah penyelesaian bahasanya sendiri. Setelah tahap “think” selesai
dilanjutkan dengan tahap “talk” yaitu berkomunikasi dengan menggunakan
kata-kata dan Bahasa yang mereka pahami. Fase berkomunikasi (talk) pada strategi ini memungkinan
siswa untuk terampil berbicara. Menurut Huinker & Laughin dalam martinis (2008:86),
pada umumnya berkomunikasi dapat berlangsung secara alami. Proses komunikasi
dipelajari siswa melalui kehidupannya sebagai individu yang berinteraksi dengan
lingkungan sekitarnya. Secara alami dan mudah proses komunikasi dapat dibangun
dikelas dikelas dan dimanfaatkan sebagai alat sebelum menulis. Pemahaman
dibangun melalui interaksinya dalam diskusi.
diskusi pada fase talk
ini merupakan sarana untuk mengungkapkan dan merefleksikan pikiran siswa. Pada
tahap talk, tugas guru adalah sebagai fasilitator danmotivator. sebagai
fasilitator guru senantiasa harus memberi arahan dan bimbingan kepada kelompok
yang mengalami kesulitan terutama dalam hal materi, baik itu diminta
maupuntidak diminta. "ebagai motivator, guru senantiasa memberi dorongan
kepada siswa yangmerasa kurang percaya diri terhadap hasil pekerjaannya dan
atau kelompok siswa yang mendapatkan jalan buntu untuk menemukan suatu jawaban.
Guru juga harus bisa memotivasisiswa yang dalam kegiatan diskusi kurang aktif
atau malah sangat pasif. Guru harusmemberikan semangat kepada siswa yang
bersangkutan bahwa kegiatan diskusi yang sedang berlangsung adalah penting
untuk dijalani, supaya mereka dapat memahami sendiri.
fase write yaitu
menuliskan hasil diskusi pada lembar kerja yang disediakan.aktivitas menulis
berarti mengkonstruksi ide, karena setelah berdiskusi antar teman dankemudian
mengungkapkannya melalui tulisan. & penulis dalam matematika
membantumerealisasikan salah satu tujuan pembelajaran, yaitu pemahaman siswa
tentang siswa tentangmateri yang dipelajari aktivitas menulis akan membantu
siswadalam membuat hubungan dan juga memungkinkan guru melihat pengembangan
konsep siswa.
aktivitas menulis siswa bagi
guru dapat memantau kesalahan siswa, miskonsepsi, dankonsepsi siswa terhadap
ide yang sama. aktivitas siswa selama tahap write ini adalah menulis
solusi terhadap masalah pertanyaan yang diberikan termasuk perhitungan,
mengorganisasikan semua pekerjaan langkah demi langkah, baik penyelesaiannya
ada yangmenggunakan diagram, grafik, ataupun tabel agar mudah dibaca dan
ditindaklanjuti, mengoreksi semua pekerjaan sehingga yakin tidak ada pekerjaan
ataupun perhitungan yang ketinggalan, meyakini bahwa pekerjaannya yang terbaik
yaitu legkap, mudah dibaca dan terjamin keasliannya (martinis Yamin, 2008: 87-88).
B. Manfaat dan Tujuan model pembelajaran Think,talk,write
Model
TTW (Think Talk Write) ini bertujuan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif
matematik siswa. Alur kemajuan TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam
berfikir/berdialog dengan dirinya sendiri setelah ada proses membaca,
berbicara, dan membagi ide dengan temannya sebelum menulis.
Adapun manfaat model
pembelajaran Think,talk dan write ini yaitu:
1.
Model pembelajaran berbasis komunikasi dengan strategi TTW( dapat
membantusiswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri sehingga
pemahamankonsep siswa menjadi lebih baik, siswa dapat mengkomunikasikan
taumendiskusikan pemikirannya dengan temannyasehingga siswa
saling membantudan saling bertukar pikiran. /al ini dapat membantu siswa
dalam memahamimateri yang di ajarkan.
2.
model pembelajaran berbasis komunikasi dengan strategi TTW( dapat
melatih siswa untuk menuliskan hasil diskusinya ke bentuk tulisan secara
sistematissehinnga siswa akam lebih memahami materi dan membantu siswa
untuk mengkomunikasikan ide-idenya dalam bentuk tulisan).
C. Prosedur/Langkah-Langkah
Penerapan Model Pembelajarann
Think,Talk,Write
Huda
(2015: 228),menyatakan bahwa model ini didasarkan pada pemahaman bahwa belajar
adalah sebuah prilaku sosial. Strategi Think Talk Write atau
TTW mendorong siswa untuk berpikir, berbicara, dan kemudian menulis suatu topik
tertentu. Menurut Huda (2016: 229) Langkah-langkah pembelajaran dalam
model Think Talk Write adalah sebagai berikut:
- Guru, membagikan teks bacaan berupa lembar aktivitas siswa yang memuat permasalahan dan petunjuk pelaksanaan.
- Siswa membaca teks dan membuat catatan hasil bacaan secara individual (think).
- Siswa berinteraksi dengan teman satu grup untuk membahas isi catatan (talk). Guru berperan sebagai mediator lingkungan belajar.
- Siswa mengkontruksi sendiri pengetahuan yang didapatkan dari hasil diskusi (write).
- Guru meminta perwakilan dari salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
- Guru bersama siswa membuat kesimpulan dari permasalahan yang diberikan.
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatiff tipe think talk write (TTW). Menurut Yamin, 2008, model pembelajaran
kooperatif tipe TTW melibatkan 3 tahap penting yang harus dikembangkan dan
dilakukan dalam pembelajaran Fisika, Yaitu:
1. Think
Dalam tahap ini siswa secara individu memikirkan kemungkinan jawaban
atau strategi penyelesaian dan hal-hal yang tidak dipahami melalui konsep yang
sesuai dengan bahasannya sendiri. Pada Tahap ini siswa membaca sejumlah masalah
yang diberikan pada lembar kegiatan Siswa (LKS). Kemudian setelah membaca siswa
akan menuliskan hal-hal yang diketahui dan tidak diketahui mengenai masalah
tersebut (membuat catatan individu).
2. Talk ( Berbicara atau
berdiskusi)
Pada tahap talk siswa diberikan kesempatan untuk merefleksikan, menyusun
dan menguji ide-ide dalam kegiatan diskusi kelompok. Pada tahap dalam kegiatan
kelompok. Pada tahap talk memungkinkan siswa untuk terampil berbicara. Pada
tahap ini siswa akan berlatih melakukan komunikasi biologis dengan anggota kelompoknya
secara lisan.
3. Write (menulis)
Aktivitas menulis siswa pada tahap ini meliputi: menulis solusi terhadap
masalah atau pertanyaan yang diberikan termasuk perhitungan. Mengorganisasikan
semua pekerjaan langkah demi langkah ( baik penyelesaiannya, ada yang
menggunakan grafik,ataupun table agar mudah dibaca dan ditindaklanjuti),
mengoreksi semua pengoreksian semua pekerjaan sehingga yakin tidak ada
pekerjaan yang ketinggalan, dan meyakini bahwa pekerjaannya yang terbaik, yaitu
lengkap mudah dibaca dan terjamin keasliannya.
Teori belajar yang
mendasari pembelajaran dengtan Teknik
Think-talk-write (TTW) antara lain adalah teori penemuan (Discovery) dan konstruktivisme. Teori
pembelajaran Discovery menegaskan
bahwa siswa belajar bukan untuk memperoleh kumpulan pengetahuan belaka, tetapi
adanya belajar siswa memperoleh kesempatan untuk berfikir dan berpartisipasi
dalam memperoleh pengetahuan. Artinya,
Pembelajaran Discovery lebih
menekankan proses daripada produk.
Selain Discovery, teori belajar lain yang
mendasari pembelajaran dengan Teknik TTW adalah konstruktivisme dengan ide
utamanya adalah sebagai berikut.
1.
Pengetahuan tidak diberikan
dalam bentuk jadi (final), tetapi siswa membentuk pengetahuannya sendiri
melalui interaksi dengan lingkungannya, melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah penyerapan informasi bar uke dalam pikiran. Akomodasi adalah
penyusunan kembali (modifikasi) struktur kognitif karena adanya informasi baru,
sehingga informasi itu mempunyai tempat.
2.
Agar pengetahuan diperoleh,
siswa harus beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi merupakan suatu
keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi.andaikan dengan proses asimilasi
seseorang tidak dapat melakukan adaptasi terhadap lingkungannya. Terjadilah
kesetimbangan (disequlibrium).
3.
Pertumbuhan intelektual
merupakan proses terus-menerus tentang keadaan seimbang (disequilibrium- equilibrium). Akan tetapi, bila tidak terjadi
kembali keseimbangan, maka individu itu berada pada tingkat inteleektual yang
lebih tinggi daripada sebelumnya.
Menurut pandangan tersebut, teori
konstruktivisme dapat dikatakan berkenaan dengan bagaimana anak memperoleh
pengetahuan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.intelektual untuk
berinteraksi dengan lingkungannyqa adalah melalui asimilasi. Bila seorang siswa
tidak memiliki pengetahuan memadai untuk menanggapi suatu situasi yang dating
dari lingkungannya, makai a harus mengubah intelektualnya,sehingga melakukan
akomodasi terhadap lingkungannya. Apabila siswa sudah mampu menyatukan atau
mengintegrasikan antara pengetahuan yang ada pada dirinya atau pengalamannya
dengan pengetahuan yang timbul dari l.ingkungannya, makqa dapat dikatakan siswa
telah mengadakan adaptasi.
Dengan demikian, ciri-ciri pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dan Discovery sangat sesuai dengan Teknik think-talk-write, sehingga peranan guru dalam Teknik ini sebagai simulation of learning benar-benar dapat
membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan.
D. Prinsip Model Pembelajaran
Think, Talk, Write
Prinsip-prinsip aktivitas
dalam belajar dalam hal akan dilihat dari sudut pandang perkembangan konsepsi
jiwa menurut ilmu jiwa. Dengan melihat unsur kejiwaan seseorang subjek/subjek
didik, dapat diketahui bagaimana prinsip aktivitas yang terjadi dalam proses
pembelajaran itu. Karena dapat dilihat dari sudut pandang ilmu jiwa, maka sudah
barang tentu yang menjadi perhatian adalah komponen manusiawi dengam melakukan
proses dalam pembelajaran, yakni yang terlibat didalamnya adalah siswa dan
guru. Think,talk, write juga memiliki beberapa prinsip atau kebenaran tetap
yang salah satunya adalah:
Berfikir, semua siswa dari
lingkungan kelas diharapkan berfikir untuk mengetahui konsep dasar fisika dalam
menyelesaikan soal dan masalah fisika dengan kelompoknya masing-masing.
Berbicara segalanya dari lingkungan kelas hingga Bahasa tubuh anda dari kertas
dibagikan hingga dirancang untuk menyampaikan pesan tentang apa yang telah
didapatkan dari proses pembelajaran. Kemudian yang terakhir yaitu menulis
setelah siswa berfikir untuk menyelesaikan soal fisika dan mengemukakan
pendapatnya dalam kelompok mereka. Siswa menuliskan semua yang telah mereka
bahas dan disepakati Bersama dalam kelompok.
E. Komponen Pendukung Model Pembelajaraan cooperative- TTW
Dalam TTW terdapat beberapa komponen penting yang cukup berperan dalam
memperlancar jalannya strategi Think talk
write pada pembelajaran yaitu :
1.
Guru yang berkompeten dan professional
2.
Anaak didik yang aktif dalam proses pembelajaran.
3.
Buku Bacaan yang sesuai dengan topik materi yang diajarkan dengan jumlah
yang banyak dan bervariasi.
4.
Beberapa eknik pembelajaran yang mempunyai peranan cukup penting dalam
terlaksananya strategi Think talk write
dalan pembelajaran,agar dapat tercapai tujuan yang telah ditentukan.
F. Peranan dan Tugas Guru dalam Usaha mengefektifkan TTW
Peranan dan tugas guru dalam
usaha mengefektifkan penggunaan strategi TTW ini,sebagaimana yang dikemukakan
silver dan smith (dalam Yamin, 2008) adalah:
1.
Mengajukan pertanyaan dan tugas yang mendatangkan keterlibatan,menantang
setiap siswa berfikir.
2.
Mendengarkan secara hati-hati ide siswa.
3.
Menyuruh siswa mengemukakan ide-ide secara lisan dan tulisan
4.
Memutuskan apa yang di dapat dan dibawa oleh siswa dalam diskusi.
5.
Memutuskan kapan memberi informasi,mengklarifikasikan
persoalan-persoalan, menggunakan model,membimbing dan membiarkan siswa berjuang
dengan pemecahan kesulitan.
6.
Memonitoring dan menilai partisipasi siswa dalam diskusi, dan memutuskan
kapan dan bagaimana mendorong setiap siswa untuk berpartisipasi.
G. Kelebihan dan Kelemahan model pembelajaran Kooperatif TTW
Setiap model pembelajaran
pasti memilki kelemahan dan kelebihannya masing-masing sesuai dengan
karakteristiknya. Berikut kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif
TTW.
a. Kelebihan
1.
Mengembangkan pemecahan yang bermakna dalam rangka memahami materi ajar
2.
Dengan memberikan soal open ended
dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa.
3.
Dengan berinteraksi dan berdiskusi dengan kelompok akan melibatkan siswa
secara aktif dalam proses pembelajaran .
4.
Membiasakan siswa berfikir dan berkomunikasi dengan teman,guru, dan
bahkan dengan diri mereka sendiri.
b. Kelemahan
1.
Terkecuali jika soal open ended
tersebut dapat memotivasi,siswa dimungkinkan bekerja sibuk.
2.
Ketika siswa bekerja dalam kelompok itu mudah kehilangan kemampuan dan
kepercayaan, karena didominasi oleh siswa yang mampu. Dalam hal ini dapat
diantispa`si dengan pembentukan kelompok heterogen, baik dalam hal kognitif
maupun yang lainnya.
3.
Guru harus benar-benar menyiapkan semua media dengan matang agar dalam
menerapkan strategi think-talk-write tidak
mengalami kesulitan. Hal ini diantisipasi dengan komitmen guru untuk menerapkan
model ini dalam pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran.
H. Teknik Penyampaian Strategi Think
talk write
Telah dipaparkan diatas bahwa strategi Think talk write ini tidak semata-mata mengutamakan segi
pelaksanaan atau aplikasi praktis, namun Teknik pengajarannya dengan bantuan
penggunaan Teknik pengajaran yang lain, antara lain ceramah,diskusi,tanya
jawab,resitasi dan lain—lainnya. Namun model atau metode pembelajarannya
menonjolkan aspek kecepatan siswa dalam beraktivitas
(berpikir,berbicara,menulis,mendengarkan,dll). Teknik-teknik yang bias
digunakan sebagai pengantar pelaksaanaan strategi Think talk write dalam
pembelajaran adalah sebagai berikut.
·
Diskusi
·
Ceramah
·
Pemberian tugas (Resitasi)
·
Tanya jawab
·
Penemuan
Untuk memilih
Teknik mana yang akan digunakan sebagai pengantar pelaksanaan strategi think
talk write ini, tentu saja harus diperhatikan dan menjadikannya sebagai acuan
pada syarat pemilihan metode atau Teknik yang ada, agar Tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan sebelumnya dapat dicapai dengan maksimal. Jika dilihat
dari alokasi waktu yang rata diberikan oleh sekolah yakni hanya mencapai dua
jam pelajaran (2 JP) tiap kali pertemuan, maka teknik yang baik di gunakan
sebagai pengantar strategi think talk write ini antara lain ; Diskusi,Resitasi,
tanya jawab dan penemuan.
BAB III
IMPLEMENTASI
MODEL PEMBELAJARAN
TTW
Dalam penerapan atau implementasi sebuah model
pembelajaran Think talk write ini
menuntut agar siswa menjadi lebih aktif dan kreatif. Yang dimana model pembelajaran digunakan untuk mengembangkan tulisan dan
melatih Bahasa sebelum menuliskan serta membantu siswa dalam mengumpulakan dan
mengmbangkan ide-ide melalui percakapan struktur.
pembelajaran think talk write (TTW) sangat efektif
jika di implementasikan pada
pembelajaran Fisika. Yang dimulai dengan Berfikir melalui bahan Bacaan dengan
menguasai konsep-konsep dasar Fisika misalnya dengan (menyimak,mengkritisi, dan
memberi solusi saat melakukan pemecahan masalah), Hasil bacaan ini kemudian
dikomunikasikan dengan presentasi,diskusi dan terakhir membuat hasil laporan.
Model pembelajaran Think talk write
dalam proses pembelajaran Fisika sangat tepat diperlukan terutama pada model
yang dapat mengikutsertakan peserta didik menjadi lebih aktif
mengingat,memahami, dan mengaplikasikan pemecahan masalah yang didapat dari suatu percobaan dan bahkan melalui hasil
bacaan. Kegiatan tersebut diharapkan mampu memperbaiki minat dan rendah nya
hasil belajar kognitif peserta didik. Model pembelajaran kooperatif Think Talk write dianggap berpotensi
mampu mengatasi hal tersebut.
Hasil belajar kognitif didefinisikan sebagai tingkatan
dimana seorang siswa tidak sekedar mengetahui konsep-konsep, melainkan
benar-benar memahaminya dengan baik, yang ditunjukan oleh kemampuannya dalam
menyelesaikan berbagai persoalan, baik yang terkait dengan konsep itu sendiri
maupun penerapannya dalam situasi baru sehingga bisa meningkatkan nilai hasil
belajar kognitif siswa. Selanjutnya, taksonomi ranah kognitif yang asli ini
dianggap menunjukkan hierarki yang kumulatif; yang artinya, penguasaan setiap
kategori yang lebih sederhana merupakan prasyarat untuk menguasai kategori
lainnya yang lebih rumit. Hasil belajar kognitif yang dimaksudkan sebagai
kemampuan kognitif sebagaimana tercakup dalam taksonomi Bloom yang telah
direvisi meliputi C1 (mengingat), C2 (memahami), dan C3 (mengaplikasikan).
Pembelajaran TTW dimulai dengan bagaimana siswa
memikirkan penyelesaian suatu tugas atau masalah, kemudian diikuti dengan
mengkomunikasikan hasil pemikirannya tersebut melalui forum diskusi, dan
akhirnya melalui forum diskusi tersebut siswa dapat menuliskan kembali hasil
pemikirannya. Aktivitas berpikir, berbicara, dan menulis adalah salah satu
bentuk aktivitas belajar-mengajar yang memberikan peluang kepada siswa untuk
berpartisipasi aktif. Melalui aktivitas tersebut siswa dapat mengembangkan
kemampuan berbahasa baik secara lisan maupun tulisan secara tepat, terutama
saat menyampaikan ide (Elida, 2012: 181). Sehingga bisa meningkatkan minat
Model pembelajaran TTW menurut (Huda, 2013: 218-219)
melibatkan tiga tahap penting yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran
yaitu sebagai berikut:
a. Think : Siswa secara individual membaca;
menyimak; mengamati yang kemudian akan berfikir dan menuliskan hal-hal penting
dan jawaban dari bahan pembelajaran yang disajikan. Pada tahap kegiatan Think
(mengingat) yang dilakukan oleh guru dan siswa, siswa dapat mengingat dan
menjawab pertanyaan dengan baik. Hal ini sesuai dengan prosesproses kognitif
dalam kategori hasil belajar kognitif aspek C1 yaitu mengingat.
b. Talk : Siswa mengkomunikasikan hasil
kegiatannya pada tahap think melalui diskusi dalam kelompoknya yang terdiri
empat sampai enam siswa. Pada tahap ini juga guru memberi siswa beberapa materi
penguatan. Tahap talk berkaitan dengan beberapa aspek dalam ranah kognitif, di
antaranya C2 yang meliputi memahami.
c. Write : Siswa secara individual menulis
hasil diskusi berdasarkan pemikiran dan bahasa masing-masing. Tahap write
berkaitan dengan beberapa aspek dalam ranah kognitif, di antaranya C2 yaitu
memahami, dan C3 yaitu mengaplikasikan.
Model pembelajaran ini
pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara, dan menulis. Proses
pembelajaran berlangsung disertai pengamatan terhadap aktivitas guru maupun
siswa untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran melalui lembar
observasi. Setelah berakhir proses pembelajaran, siswa diberikan angket untuk
mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran baik yang menggunakan ataupun
tanpa menggunakan model pembelajaran TTW.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara umum Model Pembelajaran “Think
Talk Write” ini adalah suatu strategi pembelajaran yang diharapkan dapat
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
Pada prinsipnya model pembelajaran think-talk-write ini dibangun dengan memberikan waktu kepada siswa untuk melakukan kegiatan tersebut (berpikir, merefleksikan dan untuk menyusun ide-ide, dan menguji ide-ide itu sebelum menulisnya).
Model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) memiliki langkah-langkah (sintaks) dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut.
Pada prinsipnya model pembelajaran think-talk-write ini dibangun dengan memberikan waktu kepada siswa untuk melakukan kegiatan tersebut (berpikir, merefleksikan dan untuk menyusun ide-ide, dan menguji ide-ide itu sebelum menulisnya).
Model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) memiliki langkah-langkah (sintaks) dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut.
1.
Menginformasikan materi yang akan dipelajari dan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai.
2. Menjelaskan tentang
teknik pembelajaran dengan strategi TTW serta tugas-tugas dan aktivitas siswa.
3. Melakukan apersepsi Memberikan motivasi agar
siswa berperan aktif dalam pembelajaran.
Membagi siswa dalam kelompok kecil (3 - 5 siswa).
Membagi siswa dalam kelompok kecil (3 - 5 siswa).
4. Guru membagi Lembar Kerja
Peserta didik (LKS) yang berisi masalah yang harus diselesaikan oleh peserta
didik, Jika diperlukan diberikan sedikit petunjuk
Peserta didik membaca masalah yang ada dalam LKS dan membuat catatan kecil secara individu tentang apa yang ia ketahui dan tidak ketahui dalam masalah tersebut.
Peserta didik membaca masalah yang ada dalam LKS dan membuat catatan kecil secara individu tentang apa yang ia ketahui dan tidak ketahui dalam masalah tersebut.
5. Peserta didik berdiskusi
dengan teman dalam kelompok membahas isi catatan yang dibuatnya dan
penyelesaian masalah dikerjakan secara individu (talk).
6. Dari hasil diskusi,
peserta didik secara individu merumuskan pengetahuan berupa jawaban atas soal
(berisi landasan dan keterkaitan konsep, metode, dan solusi) dalam bentuk
tulisan (write) dengan bahasanya sendiri.
7. Perwakilan kelompok
menyajikan hasil diskusi kelompok, sedangkan kelompok lain diminta memberikan. tanggapan.
8. Kegiatan akhir
pembelajaran adalah membuat refleksi dan kesimpulan atas materi yang
dipelajari.
Sehingga pada tujuan utamanya
Model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) diharap dapat membangun pemikiran,
merefleksi, dan mengorganisasi ide, kemudian menguji ide tersebut sebelum
peserta didik diharapkan untuk menulis.
DAFTAR PUSTAKA
Huda, Miftahul. 2015. Cooperative
Learning. Yogyakarta : Pustaka Belajar.
Huinker, D. dan Laughlin, C. 1996. Talk
You Way into Writing. In. P. C. Elliot and M.J. Kenney (Eds). Years Book 1996.
Communication in Mathematics K-12 and Beyond. USA:NCTM
Yamin, M. 2008. Taktik
Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa. Jakarta : Gaung Persada Press.
Komentar
Posting Komentar